Saya sering menemukan banyak para pengajar tajwid berbicara sifat-sifat huruf hijaiyyah seperti Hams-Jahr, atau Syiddah-Rikhwah, dan sebagainya. Namun, mereka sendiri tidak memahami dengan tepat bagaimana konsep istilah-istilah tersebut dan praktiknya dalam pelafalan huruf-huruf hijaiyyah.

Sehingga mereka menyampaikan istilah-istilah tersebut sebagai sebuah teori an sich. Mereka kesulitan menerapkan teori-teori tersebut dalam praktik pelafalan. Bahkan sekadar untuk membuktikan ke-Hams-an atau ke-Jahr-an sebuah huruf, banyak yang kesulitan.

Hal ini disebabkan kebanyakan pengajar tajwid terlalu fokus pada definisi text book yang telah banyak tersebar, tanpa menggali lebih jauh bagaimana maksud dari definisi yang dijelaskan dalam buku-buku.

Sebagai contoh misalnya saat membuktikan sifat Jahr pada huruf Dal. Maka begitu banyak para pengajar tajwid yang memberi contoh dengan mengucapkan Dal berharakat: “Da Di Du.” Padahal hakikat kesempurnaan pelafalan setiap huruf adalah bukan saat mereka berharakat, melainkan saat mereka sukun. Karena berbicara huruf hijaiyyah sejatinya berbicara huruf konsonan. Maka, bagaimana mungkin konsep sifat jahr dapat dipahami secara tepat apabila contoh yang disodorkan adalah dengan membunyikan huruf berharakat?

Mestinya ia mencontohkan huruf Dal yang sukun: “Ad, Id, Ud.”

Namun, bisa jadi apabila yang menjadi contoh adalah Dal Sukun, maka mereka sendiri akan kebingungan bagaimana membuktikan keadaan Jahr dalam huruf Dal. Lagi-lagi, hal tersebut disebabkan kebanyakan di antara mereka tidak memahami bagaimana konsep yang tepat dari definisi sifat-sifat huruf, sehingga mereka sendiri tidak bisa menjelaskannya secara tepat dan tidak bisa memberikan contoh yang membuktikan keadaan huruf-huruf tersebut sesuai dengan sifatnya masing-masing, sebagaimana yang telah dikelompokkan para ulama.

Ini baru berbicara satu sifat: Jahr. Lalu, bagaimana dengan sifat-sifat huruf yang lain, seperti Hams, Syiddah, Rikhwah, apalagi sifat Ishat dan Idzlaq, dimana kebanyakan pengajar sendiri sangat tidak memahami apa maksud Idzlaq dan Ishmat. Mereka hanya mengandalkan text book, bahwa Idzlaq adalah huruf yang ringan dan mudah diucapkan, sedangkan Ishmat adalah huruf yang berat dan sulit diucapkan, tanpa memahami hakikat kedua sifat tersebut dalam pandangan fonetik bahasa Arab.

Makanya para pengajar tajwid merasa kebingungan saat ditanya oleh murid-murid mereka, mengapa huruf Hamzah, misalnya dikenal sebagai huruf yang paling Ishmat, padahal secara pelafalan mungkin mudah-mudah saja dan tidak terasa berat.

Untuk itu, para pengajar tajwid mesti lebih serius dalam meng-upgrade keilmuan mereka agar bisa menjelaskan berbagai persoalan tajwid yang mereka hadapi. Sedangkan modal terbesar dalam ilmu tajwid adalah pemahaman aspek bahasa. Baik dari nahwu, sharf, atau fonetiknya. Karena di sanalah akar ilmu tajwid. Karenanya saya sering mengatakan dalam forum dan daurah, “para pengajar tajwid wajib mempelajari bahasa Arab.”

Insyaallah apabila para pengajar tajwid lebih serius dalam mempelajari bahasa Arab, lebih dari 90% persoalan dalam ilmu tajwid akan lebih mudah terjawab dan lebih mudah dipahami. Wallahu a’lam.

– Muhammad Laili Al-Fadhli –

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *